Timnas Brasil harus puas mengawali perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil imbang 1-1 saat menghadapi Maroko pada laga pembuka Grup C. Pertandingan yang berlangsung di MetLife Stadium tersebut menghadirkan banyak sorotan, salah satunya adalah performa penyerang andalan Brasil, Raphinha, yang dinilai gagal menunjukkan kualitas terbaiknya sepanjang pertandingan.
Pemain Barcelona itu dipercaya tampil sejak menit pertama oleh pelatih Carlo Ancelotti. Harapannya, Raphinha mampu menjadi salah satu motor serangan Selecao bersama Vinicius Junior. Namun kenyataannya, winger berusia 29 tahun tersebut kesulitan memberikan dampak signifikan bagi permainan Brasil.
Sepanjang laga, Raphinha terlihat kesulitan menembus rapatnya pertahanan Maroko yang tampil disiplin dan agresif. Beberapa kali percobaan dribel yang dilakukannya berhasil dipatahkan oleh para pemain Atlas Lions sehingga membuat serangan Brasil sering kehilangan momentum di sepertiga akhir lapangan.
Maroko Berhasil Meredam Ancaman Brasil
Sejak awal pertandingan, Maroko tampil mengejutkan dengan permainan yang berani dan penuh percaya diri. Tim asuhan Mohamed Ouahbi mampu mengendalikan tempo permainan dan membuat lini tengah Brasil kesulitan berkembang.
Gol pembuka Maroko yang dicetak Ismael Saibari menjadi bukti bagaimana Brasil mengalami banyak masalah dalam organisasi permainan mereka. Bahkan setelah tertinggal, Brasil masih kesulitan menciptakan peluang berbahaya secara konsisten.
Dalam situasi seperti itu, sosok Raphinha diharapkan mampu menjadi pembeda melalui kecepatan dan kreativitasnya dari sisi sayap. Sayangnya, mantan pemain Leeds United tersebut justru tampil jauh di bawah standar yang biasa ia tunjukkan bersama Barcelona.
Beberapa media internasional bahkan menilai Raphinha menjalani pertandingan yang cukup sunyi dan gagal memberikan kontribusi besar sepanjang 90 menit pertandingan.
Minim Kontribusi di Lini Serang
Salah satu faktor yang membuat performa Raphinha mendapat kritik adalah minimnya kontribusi langsung terhadap peluang-peluang Brasil. Ia gagal mencatatkan assist maupun gol dan jarang terlibat dalam kombinasi serangan yang berbahaya.
Ketika Vinicius Junior berhasil mencetak gol penyeimbang pada menit ke-32 melalui aksi individu yang brilian, peran Raphinha dalam proses serangan tersebut juga tidak terlalu menonjol. Sebaliknya, Vinicius menjadi pemain yang paling aktif dan mampu memberikan ancaman nyata bagi pertahanan Maroko.
Bahkan sejumlah penilaian pasca pertandingan menunjukkan bahwa performa Raphinha berada di bawah rata-rata pemain inti Brasil lainnya.
Carlo Ancelotti Soroti Performa Tim Secara Keseluruhan
Meski tidak secara khusus menyebut nama Raphinha, Carlo Ancelotti mengakui bahwa Brasil tampil kurang baik terutama pada babak pertama. Pelatih asal Italia tersebut menilai anak asuhnya bermain terlalu gugup dan kehilangan keseimbangan permainan.
Ancelotti juga menyoroti lemahnya penguasaan bola serta kurangnya intensitas yang membuat Maroko mampu mendominasi beberapa fase pertandingan. Situasi tersebut secara tidak langsung turut mempengaruhi performa para pemain depan Brasil, termasuk Raphinha.
Menurut Ancelotti, Brasil harus segera melakukan evaluasi jika ingin melangkah jauh dalam turnamen. Ia bahkan membuka kemungkinan melakukan perubahan susunan pemain pada pertandingan berikutnya.
Tekanan Semakin Besar untuk Raphinha
Sebagai salah satu pemain senior di lini serang Brasil, ekspektasi terhadap Raphinha tentu sangat tinggi. Banyak pendukung Brasil berharap Raphinha mampu bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya pada laga berikutnya melawan Haiti.
Apabila kembali gagal tampil maksimal, bukan tidak mungkin Carlo Ancelotti akan mempertimbangkan opsi lain untuk mengisi sektor sayap demi meningkatkan daya gedor Selecao.
Brasil Harus Segera Bangkit
Hasil imbang melawan Maroko membuat persaingan Grup C semakin terbuka. Brasil masih memiliki peluang besar untuk lolos ke babak berikutnya, tetapi mereka wajib memperbaiki performa secara keseluruhan.
Selain memperkuat lini tengah dan organisasi pertahanan, Brasil juga membutuhkan kontribusi lebih besar dari para pemain depan mereka.
Jika mampu menemukan kembali performa terbaiknya, pemain Barcelona tersebut berpotensi menjadi salah satu senjata utama Brasil dalam upaya memburu gelar Piala Dunia keenam sepanjang sejarah mereka.
